Home Jurnal PENGARUH TEKNIK RELAKSASI NAFAS DALAM TERHADAP PENURUNAN NYERI PADA PASIEN PASCA OPERASI DI RUMAH SAKIT DR. M.YUNUS BENGKULU (Ikhsan)
PENGARUH TEKNIK RELAKSASI NAFAS DALAM TERHADAP PENURUNAN NYERI PADA PASIEN PASCA OPERASI DI RUMAH SAKIT DR. M.YUNUS BENGKULU (Ikhsan) PDF Print E-mail
Kamis, 22 Maret 2012 16:34

PENGARUH TEKNIK RELAKSASI NAFAS DALAM TERHADAP PENURUNAN NYERI PADA PASIEN PASCA OPERASI DI

RUMAH SAKIT DR. M.YUNUS BENGKULU

Ikhsan

Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu

Relaxation is one of the technique in behavior therapy which developed by Jacobson and of Wopel to lessen dread and stress. Relaksasi is status lose from muscle tension construct where tired individual it pass through technique praktik which in intending, usage of technigue of relaksasi to lessen muscle stress to lessen pain in bone intensity also to assist natural patient. This research use Pre Experimental Design, sampel is patient of pasca operate for in RSUD Dr. M Yunus Bengkulu by 18 people. Technique data collecting use observation analysed by T test. Result of research is pain in bone storey, level before done conducted by technique of relaksasi breath in which many scale 4 ( 77,8 % ), and after done conducted by technique of relaksasi breath in pain bone storey,level which at most with scale 1   ( 38,9 % ). P = 0,000 which smaller than alpa ( 0,05 ) meaning there is influence having a meaning of among between gift giving of technique of relaksasi breath in to pain bone storey,level of pasca operation. Suggested to nurse in RSUD Dr. M Yunus Bengkulu require to be applied by technique of relaksasi breath in maximally at patient of pasca operate for by nurse to lessen pain in bone storey level of postoperatif so that can lessen gift giving of analgetik.

Kata Kunci : Tehnik Relaksasi Nafas Dalam, Tingkat nyeri, Pasca Operasi.

 

Menurut The International Association for the study of pain (IASP), nyeri didefinisikan sebagai pengalaman sensoris dan emosional yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan kerusakan jaringan atau potensial akan menyebabkan kerusakan jaringan. Nyeri adalah alasan utama seseorang untuk mencari bantuan perawatan kesehatan. Nyeri terjadi bersama banyak proses penyakit atau bersamaan dengan beberapa pemeriksaan diagnostik atau pengobatan.

Banyak faktor fisiologis (motivasi, afektif, kognitif dan emosional) mempengaruhi pengalaman nyeri total pasien. Temuan riset telah mengarah pada pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana faktor-faktor persepsi, pembelajaran, kepribadian, etnik, budaya dan lingkungan dapat mempengaruhi ansietas, depresi dan nyeri. Tingkat dan keparahan nyeri pasca operasi tergantung pada anggapan fisiologi dan psikologi individu, toleransi yang ditimbulkan untuk nyeri, letak insisi, sifat prosedur, kedalaman trauma bedah dan jenis agen anestesia dan bagaimana agen tersebut diberikan. Persiapan praoperatif yang diterima oleh pasien     (termasuk informasi tentang apa yang diperkirakan juga dukungan penenangan dan psikologis) adalah faktor yang signifikan dalam menurunkan ansietas dan bahkan nyeri yang dialami dalam periode pasca operasi (Smaltzer dan Bare, 2002).

Menurunkan nyeri sampai tingkat yang lebih ditoleransi pernah dianggap sebagai tujuan dari penatalaksanaan nyeri. Namun begitu, pasien yang menggambarkan nyerinya telah hilang sekalipun, sering melaporkan gangguan tidur dan jelas tertekan karena nyeri yang dialaminya. Dengan membayangkan efek yang membahayakan dari nyeri dan penatalaksanaan nyeri yang tidak adekuat, tujuan yang hanya membuat nyeri dapat ditoleransi telah digantikan oleh tujuan menghilangkan nyeri. Strategi penatalaksanaan nyeri mencakup baik pendekatan farmakologi maupun non-farmakologi. Pendekatan ini diseleksi berdasarkan pada kebutuhan dan tujuan pasien secara individu. Semua intervensi akan berhasil bila dilakukan sebelum nyeri menjadi lebih parah dan keberhasilan terbesar sering dicapai jika beberapa intervensi diterapkan secara simultan                           (Smaltzer dan Bare, 2002).

Ketidaknyamanan atau nyeri bagaimanapun keadaanya harus diatasi, karena kenyamanan merupakan kebutuhan dasar manusia, sebagaimana dalam Hirarki Maslow. Seseorang yang mengalami nyeri akan berdampak pada aktivitas sehari-hari dan istirahat serta tidurnya (Petter dan Perry, 2006). Jika nyeri tidak ditangani secara adekuat, selain menimbulkan ketidaknyamanan juga dapat mempengaruhi sistem pulmonari, kardiovaskuler, gastrointestinal, endokrin, imunologik dan stres serta dapat menyebabkan depresi dan ketidakmampuan. Ketidakmampuan ini mulai dari membatasi keikutsertaan dalam aktivitas sampai tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan pribadi seperti makan dan berpakaian (Smeltzer dan Bare, 2002).

Pelaksanaan manejemen nyeri non-farmakologi di lapangan belum sepenuhnya dilakukan oleh perawat dalam mengatasi nyeri. Kebanyakan perawat melaksanakan program terapi hasil dari kolaborasi dengan dokter, diantaranya adalah pemberian analgesik yang memang mudah dan cepat dalam pelaksanaanya dibandingkan dengan penggunaan intervensi manajemen nyeri non-farmakologi. Jika dengan manajemen nyeri non-farmakologi belum juga berkurang atau hilang maka barulah diberikan analgesik. Pemberian analgesik pun harus sesuai dengan yang diresepkan dokter, karena pemberian analgesik dalam jangka panjang dapat menyebabkan pasien mengalami ketergantungan.

Pengkombinasian antara teknik non-farmakologi dan teknik farmakologi adalah cara yang paling efektif untuk menghilangkan nyeri terutama untuk nyeri yang sangat hebat yang berlangsung selama berjam-jam atau bahkan berhari-hari (Smaltzer dan Bare, 2002). Penanganan nyeri dengan teknik non-farmakologi merupakan modal utama untuk menuju kenyamanan. Dipandang dari segi biaya dan manfaat, penggunaan manajemen non-farmakologi lebih ekonomis dan tidak ada efek sampingnya jika dibandingkan dengan penggunaan manajemen nyeri farmakologi. Selain itu juga mengurangi ketergantungan pasien terhadap obat-obatan. Salah satu manajemen non-farmakologi adalah teknik relaksasi, dimana teknik relaksasi ini bermanfaat mengurangi ketegangan otot yang akan mengurangi intensitas nyeri.

Tujuan Penelitian untuk mengetahui Pengaruh Pemberian Teknik relaksasi nafas dalam terhadap tingkat nyeri pasca operasi.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Pre Experimental Design dengan bentuk rancangan One Group Pretest-Postest. Dalam penelitian ini observasi dilakukan sebanyak dua kali yaitu sebelum eksperimen dan sesudah eksperimen. Observasi yang dilakukan sebelum eksperimen (O1) di sebut pre-test, dan observasi sesudah eksperimen (O2) disebut post-test (Arikunto, 2006).

Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian atau obyek yang diteliti (Notoatmodjo, 2002). Populasi dalam penelitian ini adalah pasien pasca operasi  di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu dengan jumlah pasien rata-rata pertahun berjumlah 548 orang. Pada bulan April 2010 jumlah pasien 221 orang dan yang operasi berjumlah 98 orang.

Sampel adalah sebagian atau keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi.

Penelitian dilakukan di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu dari bulan Oktober 2009 sampai bulan Juni 2010, pengumpulan data penelitian pada responden dilakukan pada Mei sampai Juni 2010.Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu :

Variabel bebas (independent)

Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel independent (Riwidikdo, 2006). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebasnya adalah relaksasi nafas dalam.

 

Variabel terikat (dependent)

Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel independent (Riwidikdo, 2006). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikatnya adalah tingkat nyeri pasca operasi.

 

Analisis Univariat

Analisis bertujuan untuk mengetahui gambaran distribusi frekuensi masing-masing variabel independen dan dependen dengan menggunakan ukuran proporsi.

 

Analisis Bivariat

Setelah data terkumpul dalam tabel distribusi frekuensi, kemudian data dihitung menggunakan Uji T-independen dengan bantuan perangkat lunak komputerisasi.

 

HASIL

Gambaran  Skor Nyeri Sebelum pada pasien pasca operasi

Berdasarkan pengumpulan data pada 18 orang pasien pasca operasi di ruang Seruni RSUD Dr. M Yunus Bengkulu dengan rata-rata umur 31-32 tahun sebagian terdiri dari perempuan danswasta serta berpendidkan rendah-menengah (SD-SMA) menunjukkan :

Tabel 4.1 Gambaran Skor Nyeri Sebelum Relaksasi pada Pasien Pasca Operasi Di Ruang Seruni RSUD Dr. M Yunus Bengkulu Tahun 2010

 

Skor Nyeri

Jumlah (Orang)

Persentase (%)

4

14

77,8

6

4

22,2

Total

18

100,0

Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan bahwa sebagian besar skor nyeri pasien pasca operasi sebelum relaksasi dengan skor nyeri 4.

 

Gambaran  Skor Nyeri Sebelum pada pasien pasien pasca operasi

Tabel 4.2 Gambaran Skor Nyeri Sesudah Relaksasi pada Pasien Pasca Operasi  di Ruang Seruni RSUD Dr. M Yunus Bengkulu Tahun 2010

Skor Nyeri

Jumlah (Orang)

Persentase (%)

0

2

11,1

1

7

38,9

2

5

27,8

3

3

16,7

4

1

5,6

Total

18

100,0

 

Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan bahwa hampir sebagian skor nyeri pasien pasca operasi sesudah relaksasi dengan skor nyeri 1.

Pengaruh Relaksasi Terhadap Skor Nyeri Sebelum dan Sesudah pada pasien pasca operasi

Selanjutnya berdasarkan tabel 4.1 dan tabel 4.2 menunjukkan rata-rata skor nyeri sebelum dan sesudahpemberian relaksasi pada pasien pasca operasi menunjukkan :

Tabel 4.3 Perbandingan Skor Nyeri Sebelum dan sesudah pada pasien Pasien Pasca Operasi DiRuang Seruni RSUD Dr. M Yunus Bengkulu Tahun 2010

Skor Nyeri

Mean

Standar Deviasi

Minimal

Maksimal

Nilai p

Sebelum

4,44

0,856

4

6

0,000

Sesudah

1,67

1,085

0

4

Sumber : Data Penelitian, 2010

Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan  rata-rata skor nyeri sebelum lebih tinggi dibandingkan dengan skor nyeri sesudah pemberian relaksasi, perbedaan ini secara statistik bermakna dengan nilai p (0,000) < 0,05. Artinya ada pengaruh pemberian relaksasi terhadap skor nyeri pada pasien pasca operasi di Ruang Seruni RSUD Dr. M Yunus Bengkulu.

 

PEMBAHASAN

Setelah dilakukan uji Nauperental didapatkan nilai p = 0,000 yang lebih kecil dari dari alpa ( 0,05 ) berarti ada pengaruh pelaksanaan tehnik relaksasi nafas dalam terhadap tingkat nyeri pada pasien pasca operasi di ruang Seruni RSUD Dr. M Yunus Bengkulu Tahun 2010.

Hal tersebut sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa ada beberapa non farmakologi untuk mengurangi nyeri yaitu dengan tehnik relaksasi nafas dalam. Tehnik relaksasi ini sendiri merupakan tehnik yang efektif untuk mengontrol ketidaknyamanan ( Smeltzer dan Bare, 2002 ).

Relaksasi otot skeletal di percaya dapat menurunkan nyeri dengan merilekskan ketegangan otot yang menunjang nyeri. Tehnik relasasi yang sederhana terdiri atas nafas abdomen dengan frekuensi lambat, berirama. Periode relaksasi yang teratur dapat membantu untuk melawan keletihan dan ketegangan otot yang terjadi dengan nyeri kronis dan yang meningkatkan nyeri ( Smelzer dan Bare, 2002 ).

Relaksasi adalah salah satu tehnik dalam terapi perilaku yang dikembangkan oleh Jacobson dan Wolpel untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan                    ( Ramdhani dan Putra, 2006 ).

Menurut Roy, bila ada respon yang menyebabkan penurunan integritas tubuh akan menimbulkan adanya suatu kebutuhan melalui upaya atau perilaku tertentu. Begitu juga menurut Neuram, bahwa manusia merupakan system internal yang terbuka dan berinteraksi dengan lingkungan internal maupun eksternal yang dapat menyebabkan stress.

Sehingga bila dikaitkan dari kedua hal di atas hubungan bilamana seseorang mendapat suatu stresor, dalam hal ini nyeri maka orang tersebut akan berespon untuk mempertahankan kesehatannya ( menhurangi nyeri ). Jadi responden akan menggunakan kopingnya untuk memenuhi kebutuhan rasa nyamannya. Penurunan tingkat nyeri pada responden karena pemberian tehnik relaksasi nafas dalam, sesuai dengan pendapat Orem, bahwa fungsi perawat yaitu membantu individu memenuhi kebutuhan hidup, memelihara kesehatan dan kesejahteraan ( Gafar, 1999 ).

Secara fisiologi tehnik relaksasi dapat menurunkan nyeri, hal ini sesuai teori gate control yang merupakan bahwa rangsangan-rangsangan rasa sakit dapat diatur atau bahkan dihalangi oleh pintu mekanisme sepanjang system pusat neurons. Pintu mekanisme dapat ditentukan di dalam sel-sel gelatinosa dengan tanduk tulang belakang pada urat syaraf tulang belakang, thalamus dan system limbic. Dengan memahami apakah dapat mempengaruhi pintu-pintu ini, para perawat dapat memperoleh sebuah kerangka kerja konseptual yang berguna untuk manajemen rasa sakit. Teori ini mengatakan bahwa rangsangan akan dirintangi ketika sebuah pintu tertutup. Penutupan pintu adalah dasar untuk terapi pertolongan rasa sakit ( Potter dan Perry, 2006 ).

KESIMPULAN DAN  SARAN

Ada pengaruh tehnik relaksasi nafas dalam terhadap penurunan tingkat nyeri pada pasien pasca operasi.

Diharapkan kepada Perawat dapat menerapkan tindakan mandiri keperawatan seperti teknik relaksasi nafas dalam dalam mengaqtasi rasa nyeri pada pasien sebagai alternatif tindakan non farmakologi dan Perlu penelitian lebih lanjut dengan metodologi dan jumlah sampel yang lebih besar untuk mengukur efektifitas teknik relaksasi nafas dalam terhadap penurunan tingkat nyeri.

DAFTAR PUSTAKA

Agus, D dan Triyanto, 2004, Manajemen Nyeri Dalam Suatu Tatanan Tim Medis Multidisiplin Majalah Kedokteran Atma Jaya, Januari, Vol 3, No 1.

Arikunto, Suharsimi, 2006,  Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Edisi Revisi VI, Rineka Cipta, Jakarta.

Carpenito, L.J. 2000, Diagnosa Keperawatan: Aplikasi Pada Praktik Klinis, Edisi 6, EGC, Jakarta.

Corwin, Elizabeth J. 2001, Patofisiologi, EGC, Jakarta.

Engram, Barbara, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal-Bedah, Vol 3, EGC, Jakarta.

Gaffar, La Ode Jumadi, 1999, Pengantar Keperawatan Profesional, EGC, Jakarta.

Guyton and Hall, 2008,  Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 11, EGC, Jakarta.

Hidayat, A.A.A. 2005, Pengantar Konsep Dasar Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta.

http://irmanthea.blogspot.com/2007/10/konsep-nyeri.hlmt.diakses tanggal 5 April 2008.

http://wordpress.com/tag/nyeri/feed/.diakses tanggal 5 April 2008.

Indrawati, Emei, 2007, “Pengaruh Pemberian Teknik Distraksi Terhadap Tingkat Nyeri Pada Anak Di RSUD dr. R. Koesma Tuban, Skripsi, Program Sarjana Keperawatan, STiKES Surya Global : tidak diterbitkan

Jong, Wim de dan Sjamsuhidajat R. 2004, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2, EGC, Jakarta.

Kelly, Tracey, 2004, Rahasia Alami Detoks, Erlangga, Jakarta.

Notoatmodjo, 2002, Metodologi penelitian kesehatan (edisi revisi), Rineka Cipta, Jakarta.

Nursalam, 2003, Konsep & Penerapan Metodelogi Penelitian Ilmu Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta.

Potter and Perry, 2006, Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep,Proses dan Praktek, Volume 2, Edisi 4, EGC, Jakarta.

Price, Silvia A dan Wilson, Lorraine M. 2005, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 6, Vol.2, EGC, Jakarta.

Ramdhani, P & Putra, AA. 2006, Studi Pendahuluan Multimedia Interaktif : Pelatihan Relaksasi. Diambil tanggal 5 April 2008. http://lib.ugm.ac.id/data/pubdata/relaksasi.pdf.

Riwidikdo, H. 2006,  Satistik Kesehatan, Mitra Cendikia Press, Yogyakarta.

Saseno, 2001, “Relaksasi Sebagai Upaya Mengurangi Kecemasan Menghadapi Studi Mahasiswa Akper Depkes Magelang”, Tesis, Program Pasca Sarjana, UGM : tidak diterbitkan.

Setiyohadi, Bambang, dkk, 2006, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi IV, Jilid II, FKUI, Jakarta.

Setyaningsih, I. 2005, Tinjauan Penatalaksanaan Nyeri Berbagai Organ, Naskah dipresentasikan dalam Seminar Nasional Keperawatan : Perspektif Penatalaksanaan Nyeri Terkini, POLTEKES Yogyakarta, Desember.

Smeltzer, Suzanna C dan Bare, Brenda G. 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Vol.1, Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Sodikin, 2001, Penanganan Nyeri Non Invasif, Majalah Keperawatan Bina Sehat, ed.004/BS/PPNI/2001, Yayasan Kesejahteraan Warga Perawatan Pusat, Jakarta.

Sutardjo, dkk, 2004, Psikoterapi, Salemba Medika, Jakarta.

Tamsuri, Anas, 2006, Konsep & Penatalaksanaan Nyeri, EGC, Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Last Updated on Kamis, 22 Maret 2012 20:37
 
Follow us on Twitter